Dulu Kau Yang Memulai dan Sekarang Kau Pergi Mengakhirinya

Aku ucapkan terimakasih telah datang mengisi hati ini, lalu pergi tanpa alasan permisi. Karena segala sesuatu tentangmu pernah menjadi bagian dari tanggungjawabku dalam hal indahnya cinta dalam hidupku. Nama yang pernah aku sebutkan dalam satuan barisan doa dan sebuah harapan yang di pintaku. Namun, kamu akhirnya datang dan membolak-balikkan hidup saya. Kehadiranmu membuat saya percaya, kalau cinta ini bisa membuat hidup kita terasa jauh lebih bahagia. Pendampinganmu meyakinkan saya, bahwa masa depan akan lebih indah jika dijalani berdua.

Akan tetapi sekarang dunia kita berbeda, seperti lupa kalau dulu kita pernah bersama. Meski sekarang tidak ada sebuah ikatan yang dinamakan Pacaran, tapi saya yakin kisah kita jika di bukukan jauh lebih romantis. Hal yang paling indah dan ku nantikan adalah sebuah kabar darimu, ketika telepon berdering atau sebuah pesan darimu adalah saat yang paling kunantikan. Satu paragraf kabar yang tertulis yang aku tuliskan dan kabar darimu yang aku terima itu sangatlah berarti. Entah bagaimanakah denganmu menganggapnya seperti apa?


Suatu hal yang dapat membuatku bahagia adalah ketika salam sapa darimu, menjadi sebuah rangkaian semangat yang mampu membuatku tersenyum. Saling memberikan kabar dan informasi salah satu hal penting di balik jarak yang sangat jauh hanya doa dan kabarlah yang mendekatkan kita. Tapi sekarang hanyalah sebuah history dan sebuah kenangan. Seperti janji yang pernah engkau tuliskan di atas pasir yang tersapu ombak di pantai. Hilang tanpa bekas.


Dulu kau yang memulai dan sekarang kau pergi mengakhirinya, terimakasih telah hadir dan pergi tanpa alasan permisi. Mungkin, saya memang masih minim pengalaman dalam membina hubungan. Saya sadar, ada kalanya diri saya terlalu egois hingga memaksakan sesuatu yang sebenarnya tak kamu inginkan. Beberapa kali pula saya pernah membuatmu kesal lantaran sikap saya yang kadang kekanak-kanakan.


Namun, akuilah bahwa kamu pun tak lantas luput dari kesalahan. Sekian lama bersama, entah berapa kali kamu menyakiti hati saya. Kata-kata kasar dan menyinggung perasaan awam keluar dari mulutmu. Kalimat-kalimat yang intinya merutuki kekurangan dan ketidaksempurnaan saya pun sudah bukan lagi hal yang tabu.


Sekian lama bertahan, tapi kini saya sudah benar-benar sadar. Mungkin kita pernah sama-sama berjuang, tapi di titik ini saya harus berhadapan dengan dua pilihan. Bersamamu adalah sebuah kebimbangan, antara harus diakhiri atau justru dilanjutkan.


Aku pun sudah mengetahui semua tentangmu, kalau kamu adalah seorang wanita sangat mudah jatuh hati jika ada sebuah perhatian dari orang yang baru. Sesosok yang sangat mudah di kagumi oleh seorang pria mana pun, dan itu adalah dirimu. Tapi dibalik itu semua ada hati yang sedang terluka, karena sangat begitu menerima, memahahi dan menyayangimu secara tulus. Aku pun sama sepertimu memiliki hati yang baik, tapi mengapa engkau sakiti meninggalkan luka begitu saja? Hati yang mudah menangis dengan alasan yang sama yaitu kamu.


Terimakasih atas rasa yang pernah simpan bersama, walaupun tidak bisa dilanjutkan karena kau meninggalkannya. Doakan aku semoga kuat untuk mengembara jauh sendirian. Terimakasih atas senyum dan tawa yang pernah engkau ciptakan karena itulah menjadi semangatku. Terimakasih atas harapan yang engkau berikan, walaupun tidak pernah kau wujudkan. Terimakasih atas sebuah mimpi yang engkau mulainya lebih dahulu lalu menyandarkan itu hanya sebatas mimpi dan tak mungkin jadi nyata. 
Advertisment

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dulu Kau Yang Memulai dan Sekarang Kau Pergi Mengakhirinya"

Post a Comment