Satu Keluarga Yang Utuh Sebagai Kebahagiaan Surga Dunia dan Akhirat

Baik itu Sejatinya Jomblo dan yang sudah berkeluarga atau punya pasangan tentunya ingin merasakan betapa indahnya berumahtangga berbahagia dunia dan akhirat. Kadang setiap manusia lebih memikirkan sibuk untuk urusan duniawi sehingga mereka lalai akan kehidupan selanjutnya yakni akhirat. Menjadikan satu keluarga yang utuh adalah impian bersama pasangan.


Satu Keluarga Yang Utuh Sebagai Kebahagiaan Surga Dunia dan Akhirat. Keluarga adalah cermin kecil dari sebuah gambaran masyarakat global. Seorang ayah yang mampu menjadikan keluarganya sakinah, mawadah, dan penuh rahmah, maka ia akan berpotensi membangun kemakmuran dan kejayaan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas.

Satu Keluarga Yang Utuh Sebagai Kebahagiaan Surga Dunia dan Akhirat


Ketiadaan hal-hal indah dalam rumah tangga adalah pemicu utama lahirnya kebosanan, saling menyalahkan, hingga berujung pada perceraian yang amat dibenci oleh Allah Ta’ala, meski hukumnya halal. Padahal, mereka yang telah menjalani kehidupan rumah tangga dalam masa yang panjang lebih membutuhkan perkataan, sifat, dan perlakuan-perlakuan romantis dari pasangannya.

Maka mereka yang tetap romantis sampai akhir di usia senja adalah fenomena amat langka. Benar-benar sukar didapati. Amat sulit pula untuk diteladani. Beruntungnya, kita masih mendengar kisah-kisah romantis dari generasi-generasi terdahulu sehingga bisa turut meneladani sebagaimana kemampuan terbaik yang kita miliki.

Adalah Aminah Abidin yang menuturkan tentang kehidupan rumah tangga sepasang aktivis dakwah sebagaimana dikutip oleh Salim A Fillah dalam Bahagianya Merayakan Cinta. Ialah Ummu Usamah dan Ustadz Hasan Hudhaibi yang merupakan salah satu petinggi organisasi dakwah Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Berdasarkan penuturan Aminah Abidin, Ummu Usamah benar-benar menakjubkan sebagai seorang istri. Beliau tidak menemui suaminya di waktu Dhuha dengan pakaian di waktu Subuh dan tidak menemui suaminya di waktu Ashar dengan busana di kala Zhuhur.

Hal itu didapati oleh Aminah Abidin dalam kunjungannya di rumah Ummu Usamah selama tiga hari dalam rangka silaturahim, untuk menautkan hati.

Lebih lanjut, Ummu Usamah melepas kepergian Ustadz Hasan Hudhaibi di waktu pagi dengan pelepasan terbaik, kemudian mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin guna menyambut kedatangan suaminya di senja hari.

“Tak cuma itu, ia memberikan semangat kepada suaminya saat keluar dan bersiap-siap untuk menyambutnya saat pulang dengan hal-hal indah layaknya dua pengantin yang sangat serasi di hari-hari pertama pernikahannya.” pungkas Salim A Fillah menuturkan.

Padahal, usia Ummu Usamah dan Ustadz Hasan Hudhaibi ketika itu berkisar pada bilangan enam puluh lima tahun. Bukan lagi pengantin baru. Bukan pula pasangan yang baru merasakan nikmatnya cicipan kesibukan penghuni surga.

Peran seorang ayah dalam keluarga adalah menjadi kepala rumah tangga. Selain mencari nafkah, ia juga wajib memenuhi kebutuhan lahir dan batin istri dan anak-anaknya. Meski sebagai pemegang kendali dalam keluarga, bukan berarti seorang ayah bebas tunjuk sana tunjuk sini agar di patuhi anggota keluarga. Selama tidak melanggar aturan Allah dan rasul-Nya, ayah berhak untuk ditaati anggota keluarga.

Rasulullah saw, adalah sosok seorang ayah yang pantas menjadi teladan umatnya. Meski sebagai kepala keluarga, beliau bukanlah sosok yang otoriter. Beliau biasa membantu istrinya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Itulah yang membuat beliau bahagia. Katanya,”Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap istri (keluarga). Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri (keluarga)ku.’

Berbeda dengan suami yang super sibuk dan tidak peduli lagi dengan keluarganya. Ada suami yang gampang marah dan bertindak kasar hanya karena terlambat disiapkan makan. Marah besar karena istrinya lupa menyediakan secangkir kopi. Melempar piring jika istrinya terlambat pulang. Memukul istri jika tidak menuruti kehendaknya meski salah. Tidak sedikit pula suami yang membebani tugas kepada istrinya di luar kemampuannya dengan alasan kewajiban istri. 
Advertisment

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Satu Keluarga Yang Utuh Sebagai Kebahagiaan Surga Dunia dan Akhirat"

Post a Comment