Sampah di Jakarta 8.000 Ton Per Hari, Proyek Sulap Jadi Listrik
Sejatinyajomblo.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyampaikan empat proyek pembangkit sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy akan groundbreaking pada Juni mendatang. Adapun lokasinya di Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta. Kondisi Bantargebang yang kian mengkhawatirkan itu menjadi alasan kuat mengapa pemerintah harus melakukan percepatan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy.
![]() |
| Foto: Pradita Utama/DetikCom |
Dilansir dari DetkCom, Zulhas mengatakan keempat proyek tersebut saat ini sudah masuk tahap kontrak yang diumumkan oleh Danantara. Proyek ini menjadi bagian dari tahap pertama percepatan pengolahan sampah nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai permasalahan sampah di Indonesia sudah mengerikan, termasuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Bahkan ia mengibaratkan tumpukan sampah bak gedung belasan lantai.
Zulhas mengatakan volume sampah yang menumpuk di Jakarta sudah mencapai 8.000 ton setiap hari.
"Jakarta itu hampir 8.000 ton setiap hari sampah lho itu, sehingga sudah seperti gedung, berapa itu Bantar Gebang, 16 lantai, 17 lantai," ujar Zulhas dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).
![]() |
| Ilustrasi Sampah Menumpuk/Freepik |
"Sudah kontrak, sudah ada empat (proyek), yaitu Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta. Juni Insyaallah akan groundbreaking mulai pekerjaan. Nah itu tahap satu," ujar Zulhas dalam rakortas di Kantor Kemenko Pangan, Kamis (12/3/2026).
Pemerintah telah menyiapkan tiga titik proyek PSEL di Jakarta yang masuk dalam proyek tahap kedua. Pertama, TPST Bantargebang. Proyek tersebut akan mampu mengolah 3.000 ton per hari di sana.
"(Proyek kedua) ada juga di Tanjungan, itu luas lahan 8 hektare, itu bisa 2.000 ton per hari sampah baru. Yang ketiga di Sunter, yang dekat JIS itu, itu juga bisa di atas 2.000 ton per hari," jelas Zulhas.
Untuk merealisasikannya, pemerintah tidak bekerja sendiri. Zulhas menjelaskan pemerintah berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga perguruan tinggi, seperti ITB untuk menciptakan teknologi pengolahan alat yang tepat guna.


Post a Comment