Jomblo Wajib Tau Pahala Puasa Tasua dan Asyura Menurut Hadist Rasulullah SAW

Table of Contents

Sejatinyajomblo.com - Puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram) adalah dua puasa sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) dalam Islam. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada kedua puasa ini, dan Allah SWT menjanjikan keutamaan serta pahala yang sangat besar bagi orang yang melaksanakannya.


Ilustrasi Puasa Tasua dan Asyura/Sejatinyajomblo.com/Magnific


Berikut adalah rincian pahala dan keutamaan utama dari Puasa Tasu'a dan Asyura:

1. Pahala Utama Puasa Asyura (10 Muharram)

Pahala paling utama dari Puasa Asyura adalah dihapusnya dosa-dosa kecil setahun yang lalu. Hal ini bersandarkan langsung pada sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Muslim:

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

"Dan puasa di hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa dosa yang dihapus di sini adalah dosa-dosa kecil, sedangkan untuk dosa-dosa besar (seperti syirik, berzina, atau meninggalkan shalat) tetap memerlukan taubat nasuha tersendiri.

2. Keutamaan dan Pahala Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Puasa Tasu'a dilaksanakan pada hari sebelum Asyura. Pahala dan keutamaan mengamalkannya adalah sebagai berikut:

Pahala Mengikuti Sunnah dan Keinginan Nabi: Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW bertekad untuk melaksanakan puasa pada tanggal 9 Muharram agar berbeda dengan ibadah kaum Yahudi yang hanya mengagungkan tanggal 10 Muharram.

Melengkapi Pahala Puasa Asyura: Dengan berpuasa di hari Tasu'a, seorang Muslim menjaga agar ibadah puasa Asyuranya menjadi lebih sempurna karena membedakan diri dari ahli kitab.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

"Lain kali kalau aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu'a)." (HR. Muslim)

3. Berada di Bulan Paling Utama Setelah Ramadhan

Melaksanakan puasa di bulan Muharram secara umum memiliki ganjaran pahala yang berlipat ganda karena Muharram adalah salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum). Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang mulia (Muharram)." (HR. Muslim)

Setiap amal shaleh, termasuk puasa yang dilakukan pada bulan-bulan haram, dinilai lebih tinggi dan mendapatkan ganjaran yang lebih besar di sisi Allah SWT.

Dilansir dari DetikHikmah, Rasulullah SAW sangat menganjurkan puasa Asyura. Pada akhir hayatnya, beliau juga berkeinginan menambahkan puasa tanggal 9 Muharram agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda, "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)

Karena itu para ulama menganjurkan puasa Tasua dan Asyura dilakukan secara bersamaan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Pahala dan Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura

Menghapus Dosa Setahun

Rasulullah SAW bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.

Termasuk Puasa Sunnah yang Paling Utama

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim).

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah. Penyandaran nama bulan kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan tersebut.

Karena puasa Tasua dan Asyura dilaksanakan pada bulan Muharram, maka keduanya termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki pahala yang besar.

Meneladani Rasa Syukur Para Nabi

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu 'Abbas RA, bahwa Nabi SAW ketika tiba di Madinah, Beliau mendapatkan mereka (orang Yahudi) malaksanakan shaum hari 'Asyura (10 Muharam) dan mereka berkata; "Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir'aun. Lalu Nabi Musa AS mempuasainya sebagai wujud syukur kepada Allah". Maka Beliau bersabda: "Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding mereka". Maka Beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummat Beliau untuk mempuasainya (HR. Bukhari).

Mengamalkan Sunnah Nabi SAW

عن عائشة ، رضي الله عنها ، أن قريشا كانت تصوم يوم عاشوراء في الجاهلية ثم أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصيامه حتى فرض رمضان وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من شاء فليصمه ، ومن شاء أفطر

Dari Aisyah RA, sesungguhnya orang-orang Quraisy dulu pada masa jahiliyah berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah Saw pun memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu hingga turunnya perintah wajib puasa Ramadhan. (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

Dari 'Aisyah RA berkata: "Orang-orang melaksanakan shaum hari kesepuluh bulan Muharam ('Asyura') sebelum diwajibkan shaum Ramadhan. Hari itu adalah ketika Ka'bah ditutup dengan kain (kiswah). Ketika Allah SWT telah mewajibkan shaum Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsipa yang mau shaum hari 'Asyura' laksanakanlah dan siapa yang tidak mau tinggalkanlah!" (HR Bukhari).

Sejatinya Jomblo PT. Berita Kapan Digital

Post a Comment

Iklan Scroll Untuk Melanjutkan
Iklan Scroll Untuk Melanjutkan
Advertisement