Singkong dan Jagung Bisa Jadi Etanol Buat Campuran Bensin

Table of Contents

Sejatinyajomblo.com - Pemerintah menargetkan program mandatori campuran etanol dengan bensin hingga 20% (E20) bisa dijalankan mulai Januari 2028. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah membidik tiga komoditas yang bisa dijadikan sebagai bahan baku utama.


Ilustrasi Singkong/Sejatinyajomblo.com/Magnific

Perlu anda ketahui singkong dan jagung merupakan dua komoditas utama yang sangat potensial untuk diolah menjadi bioetanol (etanol yang dihasilkan dari bahan hayati). Keduanya masuk dalam kategori bahan baku berbasis pati (starch-based feedstock).

Proses mengubah singkong dan jagung menjadi etanol secara umum melalui beberapa tahapan berikut:

Pati yang terkandung dalam singkong atau jagung dihancurkan dan dicampur dengan air, kemudian dipanaskan menggunakan enzim (seperti alfa-amilase) untuk memecah rantai karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana (glukosa).

Gula sederhana hasil sakarifikasi tersebut kemudian difermentasi menggunakan mikroorganisme, biasanya ragi Saccharomyces cerevisiae. Ragi ini mengubah glukosa menjadi etanol dan karbon dioksida ($CO_2$).

Hasil fermentasi biasanya baru mencapai kadar alkohol sekitar 8–12%. Proses distilasi dilakukan untuk memisahkan alkohol dari air berdasarkan perbedaan titik didih, sehingga kadar etanol naik menjadi sekitar 95%.

Untuk bisa dicampur dengan bensin (menjadi Gasohol atau E10, E20, dst.), etanol harus murni dan bebas air (kadar 99,5% ke atas). Proses dehidrasi menggunakan teknologi seperti molecular sieve dilakukan untuk membuang sisa air tersebut.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan fokus utama bahan baku bioetanol diarahkan pada tiga komoditas. Pertama, singkong Mukibat. Menurutnya, singkong jenis tersebut memiliki ciri khas rasa lebih pahit dan tidak bersaing langsung dengan kebutuhan pangan.

"Cassava, ketela-ketela yang gede-gede, Mukibat varietasnya karena lebih pahit dan tidak berbenturan sama pangan dan patinya juga lumayan besar," ujar Eniya usai acara Pekan Riset Sawit Indonesia di Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026) dilansir dari detikfinance.

Kedua, bonggol jagung. Alih-alih biji jagung, pihaknya justru memanfaatkan tongkol atau bonggol jagung untuk memproduksi bioetanol. Ketiga, tetes tebu atau molase.

"Nah itu lalu jagung, kalau jagung bonggolnya ya, bukan jagungnya. Jadi itu sama kayak tebu. Semakin banyak kita produksi gula, maka semakin banyak kita dapatkan bioetanol. Nah semakin banyak kita produksi jagung, semakin banyak juga kita dapatkan bioetanol," kata dia.

Saat ini, pemerintah baru menetapkan formula harga bioetanol yang bersumber dari tetes tebu. Sementara itu, formula harga untuk bahan baku seperti jagung dan ketela masih dalam tahap pembahasan.

Sejatinya Jomblo PT. Berita Kapan Digital

Post a Comment

Iklan Scroll Untuk Melanjutkan
Iklan Scroll Untuk Melanjutkan
Advertisement